Beberapa menit memasak tanpa panduan internet, bisa saja kok, capcai brokoli sudah
terjadi di atas piring dengan sangat tidak cantik. Saya berdecak mencicipi
rasanya. Kalau jadi koki restoran, pasti saya sudah dikutuk dengan elegan.
Seperti sebelumnya, masakan saya hancur jadinya. Dan inilah yang saya sebut
istimewa: proses.
Sebelumnya, saya berpikir bahwa ketika masuk
dapur, saya akan bisa menemukan resep tersendiri, memasak itu tidak perlu
teori, seperti halnya berenang, langsung saja nyebur dan temukan gaya sendiri.
Tapi sepertinya, tidak berlaku untuk dapur. Tanpa resep, saya hanya
menghasilkan sampah yang bahkan untuk dilihat saja bikin tidak tega. Lain kali
saya akan coba lagi, tapi tentu saja setelah mencatat resep ibu, dan menghapal
prosedurnya. Bagi saya yang merupakan gadis tulen, memasak itu tidak semudah
kelihatannya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar